Kisah Kesabaran Yang Berbuah Manis Menantikan Kehadiran Anak

22.12

Kisah kesabaran menantikan kehadiran anak

Setiap pasangan yang sudah menikah pasti mendambakan kehadiran buah hati untuk mengisi dan meramaikan rumah tangga mereka. Namun tekadang ada beberapa pasangan yang sulit untuk mendapatkan keturunan. Cerita berikut adalah tentang bagaimana kesabaran dalam berikhtiar mendapatkan anak. Cerita ini di ambil dari Facebook.

Ternyata dengan cara ini kami mendapatkan dua garis itu. Dua garis yang dinantikan selama kurang lebih 5 tahun pernikahan kami. Masya Allah. Tangis kami pun pecah di ruang IGD. Loh kok di ruang IGD sih. Ya, berbeda sekali dengan bayangan kami sebelumnya. Dalam bayangan kami, pagi-pagi test pack, hasilnya dua garis, lalu kasih kejutan ke suami, kaya di sinetron-sinetron. Ternyata caranya adalah dengan test pack oleh dokter. Tapi bagaimanapun caranya, yang terpenting kami akhirnya bisa melihat dua garis itu. Setelah puluhan testpack satu garis yang bikin patah hati. Ahamdulillah.

Disini, saya ingin sedikit cerita tentang perjalanan dan program-program yang kami jalani untuk sampai mendapatkan di DUA GARIS ini. Berharap bisa menambah informasi dan motivasi bagi teman-teman yang saat ini masih berjuang dalam penantian mengharapkan buah hati.

Ikhtiar yang telah kami jalani macem-macem. Ada yang ngasih tahu dokter ini bagus, coba. Ada yang ngasih tau cara, obat, terapi ini itu, segalanya di coba. Di Tasik, kami pernah konsul dan promil ke tiga dokter. Tapi belum juga menunjukkan hasil yang kami harapkan. Selain itu hampir seperti tanpa progress dan kemajuan. Selain ke dokter, pernah pijat-pijat juga ke 'paraji', katanya sih khawatir posisi rahimnya gak sesuai, jadi dibetulin. Sakit iya, mana dikasih jamu-jamu yang pahit juga.

Yang terbilang lebih ekstrim dijalani adalah metode thibunnabawi. Oke, ini cara yang beda lagi, siapa tahu dengan cara beda akan berhasil namanya juga ikhtiar. Pertemuan pertama dibuat shock karena langsung disuruh terapi. Terapi ini HORROR sekali. Terapi sedot Lintah. Dan saya sangat takut dan jijik banget sama Lintah. Terapi pertama tujuh lintah sekaligus ditempelkan di beberapa titik bagian tubuh, seperti area perut (rahim), dada dan kepala. Mereka nempel sepuasnya mereka, tidak boleh dilepas dengan sengaja, harus terlepas sendirinya semaunya si lintah-lintah itu. Proses itu memakan waktu sekitar 1-2 jam. Cerita di hari pertama, Alhamdulillah bisa melewati sedotan lintah, tapi pas jalan ke mobil mau pulang nyaris ambruk karena ‘puyeng’ keleyengan mungkin karena darah banyak keluar disedot lintah. Untung suami kesayangan sigap jadi gak sampai terjatuh.

Terapi lainnya adalah metode sengat lebah dan obat-obatan herbal. Terapinya horror juga, tapi memang ada hasil positif yang berbeda. Haid yang biasanya sakit banget, hampir tak sakit lagi. Badan lebih fresh karena darah kotor disedot lintah. Kulit jadi lebih bersih bercahaya, dan tidak jerawatan juga. Tapi kok masih belum juga hasil yang diharapkan tercapai.

INSEMINASI

Beberapa kali terlintas dalam pikiran untuk berhenti saja dan pasrah menunggu. "Udah ya kang, pasrah aja. Aku mulai lelah" Tapi ternyata gelisah juga. Kemudian kami sadar bahwa pasrah itu bukan berarti diam saja. Pasrah itu tetap ikhtiar maksimal namun menyerahkan hasil sepenuhnya pada Allah. Sekitar 1 tahun lalu mas J merekomendasikan buku REZEKI LEVEL 9 karya ustadz Andre Raditya. Sekali lagi kami diingatkan bahwa keturunan itu REZEKI dari Allah. Jadi seharusnya ikhtiar pertama dan utamanya ya sama Allah.

Dan ya, kami mengaku salah, sebelumnya kami lebhi condong berharap pada dokter, obat juga metode promil yang dijalani. Padahal itu hanya wasilah saja. Sedikit demi sedikit kami mencoba mempraktekkan apa yang tertuang dalam buku tersebut. Jazakalloh ilmunya ustadz

"Ayo kang, kita ikhtiar lagi." Ucapku kepada suami.  Ya, kami wajib untuk tetap berikhtiar, siapa tahu saat ini Alloh masih menguji kesungguhan dan kesabaran kami. Berbekal hasil test terakhir, tidak memungkinkan bagi kami unttk melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.

Hasil terakhir dan vonis dokter hampir membuat kami putus asa, serasa terhempas ke jurang yang paling dalam. Dokter mengatakan suamiku terkena varikokel dan harus di operasi. "Harus dok? Tidak ada cara lain kah? Atau bisa obat saja dulu?". Dengan tegas dokter menjawab, "Ya, harus. Tidak ada cara lain". Yaa Allah apalagi ini. Di pemeriksaan tahun lalu suamiku baik-baik saja.

Hampir saja kami mengikuti saran dokter, bahkan sudah pesan kamar dan tunggu jadwal operasi. Lalu teringat seorang teman yang kasusnya sama, tapi saat ini dia sudah memiliki dua orang anak dan TIDAK OPERASI. Kami mendapat 'hidden message' bahwa pasien varikokel bisa mendapat keturunan tanpa operasi.

Selanjutnya kami menjalani PSIKOTERAPI. Lho kok? Eh tapi beneran lho ini penting. Karena semua hal, termasuk penyakit, datangnya dari pikiran. Baiklah, mari kita jalani. Berhasil hamil? Belum. Tapi aku dan suami jadi lebih banyak tahu sisi lain dari pasangan, bahkan yang tak terduga sebelumya. Dan kami belajar untuk lebih saling memahami lagi. Sampai temanku bercerita ada temannya yang juga udah lama menanti, alhamdulillah berhasil HAMIL melalui program INSEMINASI. Baru dengar, apalagi itu? Akhirnya setelah tanya-tanya & googling, kami mantap untuk promil lagi, walaupun di Bandung.

YAA ALLOH, INI SEPERTI MIMPI. Seperti yang aku Mimpikan. Pertemuan pertama dengan dr.Ruswana Anwar cukup mengesankan. Beliau ramah, senyumnya tulus, auranya positif dan terpenting, beliau santai mendengarkan konsultasi dan menggali riwayat kami. Saat kami tunjukkan hasil bahwa suamiku terkena varikokel, dengan santai dokter berkata, "Tidak perlu operasi, 1% itu masih ada, jumlahnya masih jutaan." "Dibantu obat saja ya bapaknya, mandi air dingin sebelum subuh, ganti semua celana jadi berbahan katun". "3 bln ini kita coba alami dulu ya sambil melihat perkembangan bapak dan sel telur ibu. Kalau dari hasil HSG nya ibu sudah bagus."

Tiga bulan berjalan, tanda kehamilan tak kunjung muncul. "Bulan depan kalau sama-sama bagus, kita inseminasi ya." Namun, harapan itu sekali lagi sirna, sel telurku kecil-kecil, padahal sudah dibantu obat penyubur. Tidak memenuhi syarat inseminasi. Dua bulan berselang, selain obat penyubur, aku pun disuntik hormon agar sel telur berkembang dan matang sempurna. Inseminasi pun kami jalani, cukup meninggalkan kesan. Namun, si merah datang lagi di bulan berikutnya. "Kita gagal lagi kang", tangisku.

Dengan perasaan kecewa, "Dok kenapa gagal? Harus gimana lagi?" Tetap dengan aura positifnya, "Secara medis semua sudah memenuhi syarat, mungkin belum waktunya. Kita hanya bisa berusaha, selebihnya minta sama Allah ya, banyak-banyak doa dan sedekah. Kita coba lagi bulan depan, ibunya diet sehat ya." Sesimpel itu, namun mengena. Alhamdulillah dipertemukan dengan dokter yang positif dan Allah oriented.

Jadi bulan depan insem lagi ya". Masih down dan trauma akan rasa ngilunya, sambil menangis, "Nanti aja, enggak mau insem dulu". Dengan memohon dan berkaca-kaca, "Kenapa sayang? Ayo tuntaskan ikhtiarnya. Nenk sakit? InsyaAlloh sakitnya berganti kebahagiaan. Akang doain Alloh beri nenk pahala yang besar. Kan ada akang, nemenin terus."

Menjelang inseminasi kedua, sel telur yg matang sampai 11 dan bagus-bagus. Spermanya pun meningkat cukup signifikan. Alhamdulillah. Namun jujur, di inseminasi kedua ini, aku terbilang pasrah dan tak begitu berharap, berdoapun minta yang terbaik saja.

MasyaAlloh, Maha Baik Alloh, Kau bukan saja kabulkan doaku untuk hamil, Kau juga wujudkan satu lagi mimpiku sejak dulu, untuk memiliki anak kembar, bahkan Kau beri bonus pula, bukan saja 2 tapi 3. Ya setelah Inseminasi kedua aku dinyatkan positif hamil dan selang beberapa bulan di USG ternyata Hamil kembar tiga. Alhamdulillah.

Buat Pasangan yang belum dikaruniai keturunan, tetaplah berikhtiar dan jangan putus asa, tetapi tetap yang menentukan rezeki kita adalah Allah SWT. Jadi mintalah sama yang memberi rezeki itu. Sekian.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »